laman

Selasa, 03 Maret 2015

metode ilmiah dan implmentasi



METODE ILMIAH DAN IMPLEMENTASI

Pendahuluan

Metode ilmiah merupakan bagian yang paling penting dalam mempelajari ilmu ilmiah. Langkah-langkah dalam menerapkan metode ini tidak harus selalu berurutan. Langkah demi langkah seperti contoh yang tercantum berikut ini, yang penting ialah pemecahan masalah untuk mendapatkan kesimpulan umum (generalisasi) yang didasarkan atas data dan uji dengan data bukan oleh keinginan, prasangka, kepercayaan atau pertimbangan lain.
A.    Langkah – langkah penerapan metode ilmiah
1.      Menentukan dan memberikan batasan kepada masalah.
Masalah yang dihadapi atau ditemukan ketika mengadakan kontak dengan fakta dan gejala alam harus diketahui dengan pasti, yakni fakta-fakta yang terorganisasi yang relevan untuk memecahkan masalah itu.
      2.      Menentukan hipotesis atau rumusan pemecahan masalah yang bersifat sementara.
Ada dua pendekatan untuk memperoleh hipotesis atau dugaan yang mungkin benar yaitu :
a.             Pendekatan pertama, yang disebut pendekatan induksi, diawali dengan pengumpulan data yang didapat dari observasi dan kemudian menggunakan data itu sebagai dasar perumusan hipotesis.
b.            Pendekatan kedua yang disebut pendekatan deduktif, merupakan cara yang lebih sederhana, khususnya jika kita sangkutkan dengan situasi yang sudah dikenal.
3.      Menguji dan mengadakan verifikasi kesimpulan salah satu unsur keberhasilan ilmu alamiah dalam memecahkan masalah, ialah bahwa ilmu alamiah tidak menerima kesimpulannya sendiri, tidak memandang bagaimana dapat dipercaya atau luasnya data di mana kesimpulan itu didasarkan, juga bagaimana baiknya kesimpulan itu cocok dengan gagasan sebelumnya.
Di dalam ilmu alamiah suatu kesimpulan bersifat sementara, kesimpulan adalah suatu yang harus diuji. Penguji seperti itu memerlukan data tambahan.
Data yang diperoleh guna pengujian terhadap generalisasi tersebut yaitu catatan observasi secara teliti, yang dapat diperoleh dengan observasi bebas yaitu observasi yang dilakukan dalam kondisi yang tidak terkendali dan observasi eksperimen (Kondisi yang terkendali).
Data yang diperoleh dianggap sah bila kedua observasi itu dapat diulangi oleh pengamat yang lain. Kecermatan dan kejujuran merupakan persyaratan bagi pencari kebenaran.
Data yang diperoleh dari observasi tersebut dikumpulkan, dipilih, disusun, dan dikelompokkan, dengan hasil bahwa keteraturan tertentu atau generalisasi menjadi jelas.
Tidak ada pendapat manusia yang sempurna, karena itu tidak ada generalisasi yang dianggap sempurna, walaupun generalisasi keilmuan dapat diselidiki secara kritis oleh banyak peneliti, dan dalam kondisi tertentu mungkin generalisasi itu tidak benar. Generalisasi yang tahan terhadap ujian waktu dan pengalaman, serta diiterima sebagai hal yang benar, disebut hukum. Kebanyakan hukum telah kita revisi bila ada informasi yang diperhatikan bahwa hukum-hukum itu tidak cepat atau kurang mencukupi.
Hukum sipil dapat diubah atau dihapuskan dan hukum sipil mencakup suatu perintah atas kewajiban, sedangkan hukum keilmuan merupakan suatu pernyataan, uraian dan bukan suatu perintah.
Ditinjau dari sejarah cara berfikir manusia, pada dasarnya terdapat dua cara pokok untuk memperoleh pengetahuan yang benar, yaitu :
1). Cara yang didasarkan pada rasio (rasionalisme).
2). Cara yang didasarkan pada pengalaman (empirisme)
Rasionalisme :
Desvartes adalah pelopor dan tokoh rasionalisme, menurut beliau bahwa rasio merupakan sumber dan pangkal dari segala pengertian. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang kepada kebenaran dan dapat memberi pimpinan dalam segala jalan pikiran.
Dalam menyusun pengetahuan, kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif. Dasar pikiran yang digunakan dalam penalarannya diperoleh dari ide yang menurut anggapannya sudah jelas, dan pasti dalam pikiran manusia.
Menurut mereka, pengalaman tidak menghasilkan prinsip, tetapi sebaliknya dengan mengetahui prinsip yang diperoleh lewat penalaran rasional, maka manusia dapat mengerti kejadian-kejadian yang terjadi / berlaku dalam sekitarnya.
Masalah utama yang terdapat dalam rasionalisme adalah evaluasi terhadap kebenaran, dasar-dasar pemikiran atau alasan-alasan yang digunakan dalam penalaran deduktif yang bersumber kepada penalaran rasional yang bersifat abstrak.
Empiris
Kaum empiris bahwa pengetahuan manusia tidak diperoleh lewat penalaran rasional yang abstrak tetapi lewat pengalaman yang kongkrit. Menurut anggapan mereka, bahwa gejala-gejala alam yang bersifat kongkrit dan dapat dinyatakan lewat tangkapan panca indera.
Kaum empiris berpegang pada prinsip keserupaan. Pada dasarnya alam adalah teratur. Gejala-gejala berlangsung dengan pola-pola tertentu.
Kaum empiris juga menggunakan prinsip-prinsip keserupaan gejala-gejala yang berdasarkan pengalaman adalah identik atau sama, yang bersifat umum.
Dalam menyusun pengetahuan secara empiris timbul berbagai masalah, di antaranya bahwa pengetahuan yang dikumpulkan tersebut cenderung merupakan kumpulan fakta yang satu sama lainnya belum tentu menunjukkan pengetahuan yang sistematis.
B.     Sikap ilmiah
Salah satu aspek tujuan dalam mempelajari ilmu alamiah adalah pembentukan sikap ilmiah. Sikap ilmiah tersebut di antaranya adalah :
1.      Jujur
2.      Terbuka
3.      Toleransi
4.      Skeptis
5.      Optimis
6.      Pemberani
7.      Kreatif

C.     Langkah-langkah operasional metode ilmiah
Salah satu syarat ilmu pengetahuan ialah materi pengetahuan itu harus diperoleh melalui metode ilmiah. Metode ilmiah tentu harus menjamin akan menghasilkan pengetahuan yang ilmiah, yaitu yang bercirikan objektifitas, konsisten dan sistematik.
Langkah-lagkah operasional metode ilmiah adalah sebagai berikut :
a.       Perumusan masalah
b.      Penyusunan hipotesis
c.       Pengujian hipotesis
d.      Penarikan kesimpulan
Kesimpulan
Metode ilmiah merupakan bagian yang paling penting dalam mempelajari ilmu alamiah. Langkah-langkah dalam menerapkan metode ilmiah sebagai berikut :
a.       Menentukan dan memberikan batasan kepada masalah.
Masalah yang dihadapi atau ditemukan dengan kontak fakta dan gejala alam dengan pasti. Disusun suatu rumusan yang tepat.
b.      Menentukan hipotesis atau rumusan pemecahan masalah yang bersifat sementara.
Ada dua pendekatan untuk memperoleh hipotesis atau dugaan, yaitu rumusan atau persyaratan untuk memecahkan masalah. Pendekatan pertama disebut pendekatan induksi, diawali dengan pengumpulan data dan observasi, kemudian menggunakan data itu sebagai dasar perumusan hipotesis. Kedua pendekatan itu masing-masing mempunyai kesempurnaan yang sama.
c.       Menguji dan mengadakan verifikasi kesimpulan.
Di dalam ilmu alamiah kesimpulan bersifat sementara, kesimpulan adalah suatu yang harus diuji. Pengujian-pengujian seperti itu memerlukan data tambahan dengan demikian generalisasi baru akan diperoleh secara terus menerus akan sehingga akan diperoleh kemajuan.
Ditinjau dari sejarah berfikir manusia pada dasarnya terdapat dua cara pokok untuk memperoleh pengetahuan yang benar, ialah :
a.                            cara yang didasarkan pada rasio, faham yang dikembangkan dikenal dengan rasionalisme.
b.                            Cara yang didasarkan pada pengalaman, faham yang dikembangkan disebut empirisme
Rasionalisme : dalam menyusun pengetahuannya, kaum  rasionalis mempergunakan metode deduktif dasar pikiran yang digunakan dalam penalarannya diperoleh dari ide yang menurut anggapannya sudah jelas, tegas dan pasti dalam fikiran manusia. Menurut mereka pikiran manusia hanyalah mengenali ide/prinsip tersebut kemudian menjadi pengetahuannya.
Empiris : kaum empiris berpegang pada prinsip keserupaan pada dasarnya alam adalah teratur. Kaum empirisme berpendapat bahwa pengetahuan manusia tidak diperoleh lewat penalaran yang abstrak tetapi lewat pengalaman yang kongkrit. Menurut pemahaman mereka, gejala-gejala alam bersifat kongkrit dan dapat dinyatakan lewat tangkapan panca indera.
Kaum empiris sendiri tidak dapat memberikan jawaban yang meyakinkan tentang hakikat pengalaman ini, apakah merupakan stimulus panca indera, persepsi, ataukah esensasi.mereka menganggap dunia fisik adalah dunia nyata, karena merupakan gejala yang diperoleh dengan panca indera. Untuk menangkap gejala fisik yang nyata? Semua telah mengetahui bahwa kemampuan panca indera sangat terbatas dan tidak sempurna. Segala sesuatu yang dilaporkan dari hasil kerja panca indera ini tidak selalu benar.
Sikap alamiah
Orang yang berkecimpung dalam ilmu alamiah akan terbentuk sikap ilmiah yang antara lain ialah :
1.      Jujur
2.      Terbuka
3.      Toleransi
4.      Skeptis
5.      Optimis
6.      Pemberani
7.      Kreatif
Langkah operasional-operasional metode ilmiah.
Langkah-langkah operasional metode ilmiah adalah sebagai berikut :
a.       Perumusan masalah, yang dimaksud dengan masalah di sini adalah pernyataan apa, mengapa, ataupun bagaimana tentang objek yang diteliti.
b.      Penyusunan hipotesis; yang dimaksud dengan hipotesis adalah suatu pernyataan yang menunjukkan kemungkinan jawaban untuk memecahkan masalah yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, hipotesis merupakan dugaan yang tentu saja didukung oleh pengetahuan yang ada.
c.       Pengujian hipotesis; yaitu berbagai usaha pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang telah diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak.
d.      Penarikan kesimpulan; penarikan kesimpulan ini didasarkan atas penilaian- penilaian analisis dari fakta (data) untuk melihat apakah hipotesis yang diajukan itu diterima tau tidak?
Hipotesis  dapat diterima bila fakta yang terkumpul itu  mendukung pernyataan hipotesis. Bila fakta tidak mendukung maka hipotesis itu ditolak.
Keseluruhan langkah tersebut harus ditempuh melalui urutan yang teratur, langkah yang satu merupakan landasan bagi langkah berikutnya. Dari keterangan-keteranagan tersebut dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang disusun secara sistematis, berlaku umum dan kebenarannya telah teruji secara empiris.

Kamis, 26 Februari 2015

ruanglingkup ilmu geomorfologi indonesia



"ruang lingkup ilmu geomorfologi indonesia"
 

disusun oleh:

pardo wandra(14030024)

 pembimbing:widya p
STKIP PGRI SUMBAR
PADANG
2015




KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan karunianya penulis dapat menyelesaikan geomorfologi indonesia dengan materi”ruanglingkup ilmu geomorfologi indonesia”.Dalam pembuatan makalah ini penulis mengucapkan terimakasih juga kepada dosen pembimbing yang telah membimbing penulis dalam penyelesaian makalah ini.
Dalam makalah ini penulis menyadari,bahwa disini banyak terdapat kesalahan dan kekurangan baik itu dari segi penulisan maupun bahasa,dan juga isi dari makalah ini.oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran yang mendidik dari pembaca makalah ini.Atas kritikan dan sarannya penulis mengucapkan terimakasih.
Semoga allah S.W.T.memberkati kita semua.Amin.
Padang,oktober 2014


Penulis





BAB I
PENDAHULUAN
1.  Latar Belakang
Pulau Sumatra merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia,dan letaknya di bagian barat Indonesia,pulau Sumatra terbagi dalam beberapa propinsi sehingga dengan jelas keadaan dan kondisi dari setia wilayah yang ada disana.Disebelah utara pulau Sumatra berbatasan debgan teluk banggala,di bagian timur dengan selat malaka,di sebelah selatan dengan selat sunda,dan di sebelah barat dengan samudra hindia.Meskipun suatu daerah berdiri diatas daratan yang sama tetapi keadaan dan kondisi setiap wilayahnya masih ada yang berbeda dan juga ada persamaannya.
Pulau Sumatra merupakan daerah yang dilalui oleh sirkum mediterania sehingga daerah Sumatra banyak memiliki gunung api yang aktif,dan di bagian baratnya terdapat lempeng yang selalu bergerak kearah Sumatra nama lempeng tersebut adalah lempeng indo-australia,karena Sumatra berada diatas lempeng asia yang sifatnya statis (tetap) maka bagian barat tampak terlihat jelas membentuk pegunugan yang tinggi.Pegunungan ini disebut pegunungan Bukit barisan yang terbentang dari utara pulau Sumatra sampai ujung selatan Sumatra dan juga terbentuk blok semangko atau patahan semangko yang terbentang dari utara hingga selatan Sumatra.
Pulau Sumatra berada di daerah katulistiwa sehingga daerah Sumatra beriklim tropis.Menurut Koppen Sumatra termasuk tipe beriklim A karena hujan sepanjang tahun dan daerahnya lembab.
Sebagian besar  dari permukaan tanah daratan rendah pulau Sumatra terdiri dari tanah Podsolik merah kuning yang terbentuk dari bahan suduk.Tanah-tanah di daerah pegunungan mempunyai penyebaran yang sangat rumit,tetapiumumnya terdiri dari berbagai tanah podsolik merah kuning yang berasosiasi dengan tanah Latosol atau pun litosol.
ll.Rumusan masalah
Ø  Apa saja ruang lingkup ilmu geomorfologi Indonesia?
Ø  Apa itu ilmu geomorfologi Indonesia?



lll.Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan terutama terpenuhinya tugas geomorfologi indonesia kami yakni tentang  ruang lingkup ilmu geografi.dan juga diharapkan akan menambah ilmu pengetahuan kita dalam bidang ilmu geomorfologi umum.

BAB II
                                                                PEMBAHASAN                       

2.1 Pengertian geomorfologi
Geomorfologi sebenarnya berasal dari bahasa Yunani yang lebih kurang dapat diartikan “perubahan-perubahan pada bentuk muka bumi”. Akan tetapi secara umum didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang alam, yaitu meliputi bentuk-bentuk umum roman muka bumi serta perubahan-perubahan yang terjadi sepanjang evolusinya dan hubungannya dengan keadaan struktur di bawahnya, serta sejarah perubahan geologi yang diperlihatkan atau tergambar pada bentuk permukaan itu (American Geological Institute, 1973). Dalam bahasa Indonesia banyak orang memakai kata bentangalam sebagai terjemahan geomorfologi, sehingga kata geomorfologi sebagai ilmu dapat diterjemahkan menjadi Ilmu Bentangalam.

Selain itu kata geomorfologi dipakai pula untuk menyatakan roman muka bumi, umpamanya bila orang menceriterakan keadaan muka bumi suatu daerah dapat dikatakan pula orang menceritakan geomorfologi daerah itu atau bentangalam daerah itu. Mula-mula orang memakai kata fisiografi untuk ilmu yang mempelajari roman muka bumi ini. Di Eropa fisiografi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari rangkuman tentang iklim, meteorologi, oceanografi, dan geografi. Akan tetapi orang, terutama di Amerika, tidak begitu sependapat untuk memakai kata ini dalam bidang ilmu yang hanya mempelajari roman muka bumi saja dan lebih erat hubungannya dengan geologi. Mereka lebih cenderung untuk memakai kata geomorfologi. Sering kedua kata itu dicampur-adukkan. Agaknya bagan pada Gambar 1 dapat membantu membedakan kedua kata itu.
Kata Geomorfologi (Geomorphology) berasal bahasa Yunani, yang terdiri dari tiga kata yaitu: Geos (earth/bumi), morphos (shape/bentuk), logos (knowledge atau ilmu pengetahuan). Berdasarkan dari kata-kata tersebut, maka pengertian gomorfologi merupakan pengetahuan tentang bentuk-bentuk permukaan bumi. Namun,Geomorfologi bukan hanya mempelajari bentuk-bentuk muka bumi, tetapi lebih dari itu mempelajari material dan proses, seperti yang dikemukakan oleh Hooke (1988) dalam Sukmantalya (1995: 1), bahwa: Geomorphologist are concerned with the form and processes of the earth’s surface so any activity which modifies the shape of the land, induces movement of material or alters the quantity or quality of water and drainage, is interest to them. Berdasarkan pada pengertian Geomorfologi yang telah disitir, secara singkat dapat dijelaskan bahwa Geomorfologi membicarakan tentang bentuklahan dan proses yang terjadi di permukaan bumi termasuk pergerakan materilal, air dan drainase serta factor lain yang memicu terjadinya proses geomorfik. Secara singkat berikut ini disajikan mengenai beberapa definisi geomorfologi yang dikemukakan oleh para ahli yaitu:
1.      Lobeck (1939: 3) menyatakan bahwa Geomorfologi adalah studi tentang bentuklahan.
2.      Cooke dan Doornkamp dalam Sutikno (1987: 3) dinyatakan bahwa geomorfologi adalah studi mengenai bentuklahan dan terutama tentang sifat alami, asal mula, proses perkembangan, dan komposisi material penyusunnya.
3.       Thornbury dalam Sutikno (1990: 2) disebutkan bahwa geomorfologi adalah ilmu pengetahuan tentang bentuklahan.
4.      Zuidam dan Concelado (1979: 3) juga menyatakan bahwa Geomorfologi adalah studi yang menguraikan bentuklahan dan proses yang mempengaruhi pembentukannya serta mengkaji hubungan timbal balik antara bentuklahan dengan proses dalam tatanan keruangannya.Verstappen (1983: 3) bentuklahan adalah menjadi sasaran Geomorfologi bukan hanya daratan tetapi juga yang terdapat di dasar laut (lautan).
Dengan demikian obyek kajian dari Geomorfologi berdasarkan definisi-definis tersebut adalah bentuklahan, bukan hanya sekedar mempelajari bentuk-bentuk yang tampak saja, tetapi juga mentafsirkan bagaimana bentuk-bentuk tersebut bisa terjadi, proses apa yang mengakibatkan pembentukan dan perubahan muka bumi. Misalnya, dalam mempelajari pegunungan, lembah-lembah atau bentukan-bentukan lain yang ada di permukaan bumi, bukan hanya mempelajari dalam arti mengamati serta mengukur bentukan-bentukan tersebut, tetapi juga mnedeskripsikan dan menganalisa bagaimana bentukan itu terjadi. Dalam hal ini kita harus berhati-hati, karena pada bentukan yang tampak sama, ada kemungkinan latar belakang pembentukan dan kejadiannya tidak sama, bahkan sangat berbeda sekali. Umpamanya suatu deretan pegunungan, mungkin terjadi karena pelipatan kulit bumi, patahan, mungkin juga karena hasil pengerjaan erosi yang demikian hebat, sehingga menimbulkan relief permukaan bumi yang bervariasi, dan penyebab lainnya. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dijelaskan bahwa Geomorfologi adalah mempelajari bentuklahan (landform), proses-proses yang menyebabkan pembentukan dan perubahan yang dialami oleh setiap bentuklahan yang dijumpai di permukaan bumi termasuk yang terdapat di dasar laut/samudera serta mencari hubungan antara bentuklahan dengan proses-proses dalam tatanan keruangan dan kaitannya dengan lingkungan. Di samping itu, juga menelaah dan mengkaji bentuklahan secara deskriptif, mempelajari cara pembentukannya, proses alamiah dan ulah manusia yang berlangsung, pengkelasan dari bentuklahan serta cara pemanfaatannya secara tepat sesuai dengan kondisi lingkungannya.
Sejarah Geomorfologi
Pengetahuan tentang geomorfologi, sebagaimana juga dengan ilmu-ilmu yang lain, dimulai dengan munculnya ahli-ahli filsfat Yunani dan Itali. Sebegitu jauh, Herodutus (485 – 425 S.M.) yang dianggap sebagai “bapak sejarah” dikenal pula mempunyai pikiran-pikiran tentang geologi, termasuk juga tentang perubahan muka air laut, salah satu gejala geomorfologi yang ia perhatikan di Mesir. Kemudian banyak pula ahli filsafat lainnya yang menyinggung tentang geomorfologi ini. Dapat disebutkan di sini antara lain Aristotle, Strabo Dan Saneca yang kesemuanya pada akhirnya menerangkan gejala-gejala alam sebagai suatu kutukan Tuhan atau dikenal dengan nama Teori Malapetaka.
Berabad-abad kemudian, konsep ini sedikit demi sedikit berubah. Orang mulai mengenal filsafat katatrofisma yang mengatakan bahwa semua gejala alam itu sebagai akibat pembentukan dan perusakan yang relatif terjadi dengan tiba-tiba, sehingga menyebabkan perubahan bentuk muka bumi.
James Hutton (1726 – 1797) dikenal sebagai “bapak geologi modern” yang menerangkan gejala-gejala geologi sebagai gejala-gejala alam yang dapat kita kenal sehari-hari, sangat bertentangan dengan teori katatrofisma yang menganggap bahwa kejadian geologi relatif mengambil waktu yang amat singkat. Atas dasar itu kemudian teori yang dikemukakan HUTTON disebut orang sebagai teori uniformitarianisma, dan terkenal dengan dalilnya yang menyatakan bahwa “hari ini adalah kunci dari kejadian pada masa lampau” atau istilah asingnya adalah the present is the key to the past. Pada masa sekarang geomorfologi bukan saja meliputi bidang yang statis, yang hanya mempelajari bentuk-bentuk roman muka bumi, akan tetapi juga merupakan ilmu yang dinamis yang dapat meramalkan kejadian alam sebagai hasil interpolasi. Selain itu pemerian bentuk roman muka bumi dapat dinyatakan dengan besaran-besaran matematika seperti kita kenal dengan nama geomorfologi kuantitatif. Sebagai pemukanya dapat dicatat STRAHLER yang membuat analisa pengaliran sungai secara matematika.
Di Indonesia, bebrapa hasil penyelidikan geomorfologi dapat dijumpai terutama yang ditulis oleh ahli-ahli Belanda pada zaman sebelum perang. Di antara karya-karya geomorfologi itu patut dikemukakan di sini penyelidikan geomorfologi Kulon Progo yang dilakukan oleh PANNEKOEK (1939). Selain itu, sesudah perang pun ahli-ahli geologi Belanda banyak pula menulis tentang geomorfologi Indonesia.

Konsep Dasar Geomorfologi
Thornbury (1969) dalam buku yang berjudul Principles of Geomorphology mengemukakan 10 konsep dasar dalam geomorfologi, yaitu:
Proses-proses fisik dan hukumnya yang terjadi saat ini berlangsung selama waktu geologi.sruktur geologi merupakan faktor pengontrol yang dominan dalam evolusi bentuk lahan (land forms); Tingkat perkembangan relief permukaan bumi tergantung pada proses-proses geomorfologi yang berlangsung; Proses-proses geomorfik terekam pada land forms yang menunjukan karakteristik proses yang berlangsung; Keragaman erosional agents tercermin pada produk dan urutan land forms yang terbentuk.Evolusi geomorfologi bersifat komplek. Obyek alam di permukaan bumi umumnya berumur lebih muda dari Pleistosen; Interpretasi yang sempurna mengenai landscapes melibatkan beragam faktor geologi dan perubahan iklim selama Pleistosen. Apresiasi iklim global diperlukan dalam memahami proses-proses geomorfik yang beragam Geomorfologi, umumnya mempelajari land forms / landscapes yang terjadi saat ini dan sejarah pembentukannya.

Proses Geomorfologi
Proses geomorfologi adalah perubahan-perubahan baik secara fisik maupun kimiawi yang dialami permukaan bumi. Penyebab proses tersebut yaitu benda-benda alam yang kita kenal dengan nama geomorphic agent, berupa air dan angin. Termasuk di dalam golongan geomorphic agent air ialah air permukaan, air bawah tanah, glacier, gelombang, arus, dan air hujan. Sedangkan angin terutama mengambil peranan yang penting di tempat-tempat terbuka seperti di padang pasir atau di tepi pantai. Kedua penyebab ini dibantu dengan adanya gaya berat, dan kesemuanya bekerja bersama-sama dalam melakukan perubahan terhadap roman muka bumi. Tenaga-tenaga perusak ini dapat kita golongkan dalam tenaga asal luar (eksogen), yaitu yang datang dari luar atau dari permukaan bumi, sebagai lawan dari tenaga asal dalam (endogen) yang berasal dari dalam bumi. Tenaga asal luar pada umumnya bekerja sebagai perusak, sedangkan tenaga asal dalam sebagai pembentuk. Kedua tenaga inipun bekerja bersama-sama dalam mengubah bentuk roman muka bumi ini. Proses geomorfologi yang kita kenal dapat diintisarikan


Ruang Lingkup Geomorfologi
Atas dasar definisi dan pengertian Geomorfologi seperti yang dikemukakan pada bagian terdahulu, maka lingkup geomorfologi serta hubungannya dengan ilmu-ilmu lain meliputi fisiografi yaitu merupakan studi tentang daratan, lautan, dan atmosfir. Lautan dipelajari dalam Oseanografi, atmosfir menjadi studi Meteorologi, sedangkan daratan merupakan obyek kajian Geomorfologi. Dengan demikian jelaslah studi Geomorfologi merupakan salah satu cabang dari Fisiografi yaitu tentang daratan yang menitik beratkan pada bentuklahan penyusun konfigurasi permukaan bumi. Berbicara mengenai hubungan antara Geomorfologi dengan Geologi W.M. Davis dalam Sudardja (1977: 4) menggunakan istilah geomorphogeny dan geomorphography, karena adanya perbedaan penekanan dalam mempelajarinya. Dimana, geomorphogeny tekanan dalam mempelajarinya mengutamakan bentuk-bentuk muka bumi masa lampau, yang erat hubungannya dengan geologi, sedangkan geomorphography lebih menekankan mempelajari bentuk-bentuk muka bumi yada ada pada masa sekarang, sehingga hubunganya dengan geografi sangat erat. Obyek kajian Geomorfologi seperti yang tersurat dalam definisi-definisi yang dikemukakan pada bagian terdahulu adalah bentuklahan. Zakrezewska dalam Sutikno (1990: 2), mengatakan bahwa Geomorfologi itu mencakaup aspek lingkungan dan aspek spasial/keruangan termasuk ke dalam aliran geomorfologi-geografis. Aliran Geomorfologi yang lain adalah geomorfologi-geologis. Geomorfologi-geografis cakupannya terletak pada penterapan konsep trilogi proses, meterial, dan morfologi, sedangkan dalam aliran geomorfologi-geologis menggunakan cakupannya terletak pada penterapan konsep bahwa aspek dari semua bentuklahan ditentukan oleh struktur, proses, dan stadium (Sutikno, 1990: 4). Dengan demikian aspek dari bentuklahan yang mendapat sorotan meliputi morfografi, morfometri, proses-proses geomorfologi, morfogenesis, morfokronologi serta mempelajari ekologi bentang lahannya yang tersusun atas batuan, bentuklahan, tanah, vegetasi, penggunaan lahan, dan lainlain. Dengan demikian bahwa dalam mempelajari Geomorfologi terkait pada geologi, fisiografi, dan proses geomorfologi yang menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan dalam perubahan bentuklahan. Atas dasar keterangan yang telah diuraikan di atas, maka berikut ini disajikan mengenai hubungan antara geologi, fisiografi, dan proses geomorfologi. Adapun hubungan

Ruang lingkup geomorfologi Geomorfoogi adalah imu tentang bentuk lahan, dapat didefinisikan bahwa geomorfologi mempelajari fenomena permukaan muka bumi, juga termasuk didalamnya adalah lautan, lempeng continental, juga yang lainya seperti gunung dll. Geomorfologi termasuk juga mempeajari tentang fisiografi dan geologi. Studi fisiografinya adalah termasuk di dalamnya didalamnya termasuk daratan yang dicakup didalam geomorfologi, atmosfer atau studi tentang paerlapisan udara yang dicakup ke dalam klimatologi dan meteorologi, serta tentang lautan yang dikaji kedalam disiplin ilmi oceanografi.
Geomorfologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang bentuk-bentuk muka bumi yang terjadi karena kekuatan-kekuatan yang bekerja baik yang ada di dalam bumi ataupun kekuatan yang berasal dari luar bumi. Daratan merupakan pokok kajian utama di dalam studi geomorfologi. Secara luas berhubungan dengan landform (bentuk lahan) tererosi dari batuan yang keras, namun bentuk konstruksinya dibentuk oleh runtuhan batuan, dan terkadang oleh perolaku organisme di tempat mereka hidup. “Surface” (permukaan) jangan diartikan secara sempit, harus termasuk juga bagian kulit bumi yang paling jauh. Kenampakan subsurface terutama di daerah batugamping sangat penting dimana sistem gua terbentuk dan merupakan bagian yang integral dari geomorfologi.
Pengaruh dari erosi oleh air, angin, dan es, berkolaborasi dengan latitude, ketinggian dan posisi relatif terhadap air laiut. Dapat dikatakan bahwa tiap daerah dengan iklim tertentu juga memiliki karakteristik pemandangan sendiri sebagai hasil dari erosi yang bekerja yang berbeda terhadap struktur geologi yang ada. Torehan air terhadap lapisan batugamping yang keras dapat berupa aliran sungai yang permanen dan periodik, dapat juga merupakan alur drainase yang melewati bagian-bagian yang lemah. Sehingga membentuk cekungan-cekungan pada bagian yag tererosi dan meninggalkan bagian yang lebih tinggi yang susah tererosi. Ukuran dari cekungan dan tinggian ini bisa beberapa sentimeter sampai beberapa kilometer. Maka sangat jelaslah jika geomorfologi merupakan bagian dari fisiografi yaitu tentang daratan yang menitik beratkan kepada macam-macam bentuk lahan yang menyusun konfigurasi bumi.
Atmosfer adalah lapisan udara yang menyelubungi bumi. Studi ilmu yang mempelajari atau yang mengkaji tentang pelapisan udara ini antara lain  adalah meteorologi dan klimatologi. Kedua studi ini sangat erat kaitan, sehingga sulit untuk dipisahkan.
Meteorologi adalah salah satu studi ilmu yang mempelajari keadaan rata-rata udara dalam waktu yang singkat pada wilayah yang sempit. Keadaan rata-rata cenderung disebut sebagai cuaca, sedangkan waktu yang dimaksud dalam cuaca tersebut adalah waktu sesaat yang sedang berlangsung yang tersatuan dalam bentuk hari, jam atau menit. Dengan demikian dapat ditarik sebuah kesimulan jika meteorologi adalah studi ilmu yang mempelajari keadaan cuaca yang sedang berlangsung sesaat pada suatu tempat yang terbatas.
Klimatologi adalah ilmu yang mempelajari keadaan rata-rata udara dalam jangka waktu yang sangat lama dan mencakup suatu wilayah yang sangat luas sekali. Keadaan rata-rata suatu udara yang berlangsung dengan sangat lama ini disebut sebagai iklim. Waktu yang lama jika berdasarkan perjanjian internasional kurang lebih 30 tahun. Bagi peneliti yang sedang belajar manganalisis keadaan iklim pada suatu tempat atau wilayah, untuk berlatih waktu yang lama berlangsung sekurang-kurangnya 10 tahun. Dengan demikian kesimpulannya adalah, klimatologi sebagai ilmu yang mempelajari iklim yang sedang berlangsung lama di dalam wilayah yang luas.
Kedua studi di atas tadi memiliki unsur-unsur yang hampir sama. Seperti yang dapat diketahui jika, atmosher juga dapat mempengaruhi bentuk-bentuk roman muka bumi. Seperti misalnya gaya erosi yang pada beberapa tempat di permukaan bumi telah menghasilkan bentuk yang khas. Contohnya adalah bentuk-bentuk batu cendawan yang seakan menyerupai bentuk jamur atau payung yang merupakan hasil dari pengerjaan tenaga erosi tipe angin. Dengan demikian atmosfer dapat dikategorikan  ke dalam salah satu dari fisiografi yang berkaitan dengan bentuk-bentuk lahan.
Studi lainnya di dalam fisiografi dalah studi tentang lautan yang dipelajari di dalam disiplin ilmu oseanografi. Oseanografi dapat diartokan kedalam arti yang lebih sederhana sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang lautan. Oseanografi semata-mata bukanlah merupakan suatu ilmu yang murni, tetapi merupakan perpaduan dari bermacam-macam ilmu-ilmu dasar yang lain. Ilmu-ilmu yang termasuk di dalamnya adalah ilmu bumi ( geologi ), ilmu geografi, ilmu fisuka, ilmu hayat, dan ilmu tentang iklim serta cuaca. Studu oseanografi ini dibagi kedalam empat cabang utama yakni fisika oseanografi ( ilmu yang mempelajari hubungan antara sifat-sifat fisika yang terjadi di dalam lautan sendiri dan yang terjadi antra lautan dengan atmosfer dan daratan ), geologi oseanografi, kimia oseanografi ( cabang ilmu ini mengkaji hubungan reaksi-reaksi kimia yang terjadi di dalam dan di dasar lautan juga menganalisa dari sifat-sifat air laut itu sendiri, dan yang terakhir adalah biologi oseanografi sebagai lmu yang mempelajari kehidupan laut.
Lautan yang khususnya adalah bagian fisik dari dasar laut itu sendiri sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bentuk-bentuk fisik yang ada di permukaan bumi. Jika pada permukaan bumi kita dapat menjumpai berbagai bentuk lembah, gunung dan pegunungan, serta jurang, kitapun juga dapat menemukan kenampakan fisik yang demikian di dalam lautan. Seperti misalnya kenampakan yang umum adalah lembah lautan atau osean basin yang terbagi menjadi ridge dan rsse, jurang laut atau palung laut ( trenc ), serta seamont dan guyot ( seamont adalah gunung-gumung berapi yang muncul dari dasar lautan, tetapi tidak dapat mencapai sampai ke permikaan laut sedangkan guyot adalah sebaliknya yang memiliki puncak yang datar.
Lautan yang dikaji oleh studi oseanografi merupakan salah satu cabang dari fisiografi. Kenyataan ini sangatlah jelas karena di dalam lautan terdapat bentuk-bentuk muka bumi seperti halnya yang ada di daratan.
Sejarah perkembangan keilmuan geomorfologi dipelopori oleh semua orang yang belajar dan meneliti geomorfologi, dimana mereka menemukan ide-ide baru yang membuat geomorfologi berkembang hingga sekarang. Pandangan kuno geomorfologi Bentanglahan adalah suatu fenomena geologi yangluas, filosofi yang sebenarnya dari filosofi ilmu oengetahuan masa lalu. Proses geomorfologi merupakan proses yang sangat signifikan. Perkembangan geomorfologi banyak didiskusikan oleh filsuf asal yunani dan itali diantaranya dalah Herodotus, aristoteles, Strabo, Geomorfologi modern Dari sjarah para ilmuan geomorfologi, proses geomorfologi merupakan proses yang sangat lama namun mengalami perubahan yang sangat sedikit demi sedikit. Banyak para ahli yang berpendapat, seperti, pendahulu dari hutton mengemukakan, konsep lahan yang kontras dengan pemikiran yang lain bahwa bentanglahan itu permanen, itu adalah fundamental geomorfologi modern, kemudian selain itu ada Leonardo da vinci (1412-1519), buffon dari prancis (1638-1687), targioni-Tozetti (1707-1788), Gheutthard (1715-1788), dasnmarest (1725-1815), De Saussure (1740-1799) Setelah hutton perkembangan di eropa yaitu sir Charles Lyell (1797-1875) yang merupakan pekembangan yang sangat signifikan di eropa dengan mencetak buku Principles of geology (1872) yang menjelaskan tentang zaman es dimana menutupi amerika utara. Kmeudian ssetlah itu jukes pada tahun 1862 dimana membuat paper tentang sungai-sungai di irlandia. Berikutnya adalah perkembangan di amerika utara dimulai oleh zittel (1901) denga the age heroic of geology, kemudian periode berikut nya dengan the heroic age in American geomorphology. Kemudian ada tiga pioneer pemikiran dalam ruang lingkup geomorfologi yaitu j.w Powell, G.K Gilbert, C.E. Dutton orang-orang ini yang membangun konsep siklus geomorfologi. Tren terakhir geomorfologi Beberapa macam tren yang signifikan pada decade yang singakat adalah tendensi untuk geomorfologi di amerika untuk menjadikan geologi lebih ketat daripada geomorfologi yang menghasilkan aplikasi geomorfolgi yang mepelajari sisi lain dari dari geologi, yaitu mineralogy yang mempelajari tentang tentang pelapukan, statigrafi dalam paleogeomorfologi, dan paleontology teknik yang mempelajari tentang penyusun glacial, dan yang kedua adalah pembangunan geomorfologi regional, yang mempelajari tentang fenomena konitnen dari suatu area geomorfologi dan sejarahnya, ketiga adalah aplikasi geomorfologi untuk geologi air tanah, ilmu tanah, dan teknik geologi, yang keempat adalah aplikasi pada hukum hidrodinamik yang membuat pengertian lebih baik mengenai proses geomorfologi.
Berbicara mengenai hubungan antara geomorfologi dengan geologi. Perlu diketahui geologi adalah adalah ilmu pengetahuan yang  mempelajari atau menyelidiki tentang lapisan batuan yang ada di dalam kerak bumi baik secara evolusi anorganik maupun organik dari bumi ( asal usul, struktur, komposisi, sejarah, gejala dan proses ) bumi. Dua cabang dari ilmu geologi yang berkaitan dengan geomorfologi antara lain adalah mineralogi dan petrologi.
Mineralogi adalah cabang ilmu dari geologi yang mempelajari mineral  sebagai bahan utama dalam pembentuk lapisan kerak bumi, bagian dari batuan, bijih, garam-garaman, batu permata, dan lain-lain. Sedangkan petrologi adalah cabang dari ilmu di dalam geologi yang mempelajari  tentang proses terjadinya  berbagai macam batuan, dan cara pengklasifikasiannya. Kedua studi ini juga berkaitan dengan geomorfologi, sebab beberapa bentuk-bentuk muka bumi  di susun oleh batian-batuan, sedangkan batuan-batuan itu sangat di pengaruhi oleh mineral-mineral sebagai bahan penyusun utama batuan.
Hubungan antara geomoforlogi dengan geologi dapat mengacu kepada dua istilah yakni geomorphogeni dan geomorphografi yang di dalamnya terdapat perbedaan penekanan dalam menpelajarinya. Geomorphogeny lebih mengutamakan mempelajari bentuk-bentuk muka bumi yang telah terjadi pada masa yang lampau, erat sekali hubungannya dengan geologi. Geomorfologi-geologi menggunakan cakupannya yang terletak pada penterapan konsep aspek dari semua bentuk lahan ditentukan oleh struktur, proses, dan stadium. Di dalam ilmu geologi terdapat cabang ilmu geologi sejarah, gelogi sejarah adalah disiplin ilmu yang mempelajari urutan-urutan  dari satuan-satuan waktu serta kejadian-kejadian dan perubahan-perubahan selama sejarah bumi.
Misalnya dalam konteks ini adalah tentang bagaimana proses terbentuknya bentuk bumi berupa pegunungan yaitu Bukit Barisan yang ada di Pulau Sumatera. Proses bagaimana terjadinya Bukit Barisan tentu dikaji di dalam studi geologi. Bukit Barisan yang terjadi pada masa lampau tentu tidak terbentuk begitu saja tanpa proses-proses yang rumit dan panjang pada masa-masa lampau. Oleh karena itu dengan menggunakan studi geologi dan geologi sejarah kita dapat mengkaji dan mempelajari tentang bagaimana proses terbentuknya Bukit Barisan yang telah terjadi sejak lama dalan kisaran waktu berpuluh-puluh juta tahun yang lalu.
Sedangkan Geomorfogeni dalam pengkajiannya lebih menekankan dalam mempelajari bentuk-bentuk muka bumi yang ada pada masa sekarang sehingga hubungannya dengan geografi sangatlah erat. Geomorfologi-geografis cakupannya terletak pada penerapan konsep trilogi yaitu proses, materil, dan morfologi.
Proses geomorfologi adalah perubahan-perubahan baik secara fisik maupun kimiawi yang dialami permukaan bumi. Penyebab proses tersebut yaitu benda-benda alam yang kita kenal dengan nama geomorphic agent, berupa air dan angin. Termasuk di dalam golongan geomorphic agent air ialah air permukaan, air bawah tanah, glacier, gelombang, arus, dan air hujan. Sedangkan angin terutama mengambil peranan yang penting di tempat-tempat terbuka seperti di padang pasir atau di tepi pantai. Kedua penyebab ini dibantu dengan adanya gaya berat, dan kesemuanya bekerja bersama-sama dalam melakukan perubahan terhadap roman muka bumi. Tenaga-tenaga perusak ini dapat kita golongkan dalam tenaga asal luar (eksogen), yaitu yang datang dari luar atau dari permukaan bumi, sebagai lawan dari tenaga asal dalam (endogen) yang berasal dari dalam bumi. Tenaga asal luar pada umumnya bekerja sebagai perusak, sedangkan tenaga asal dalam sebagai pembentuk. Kedua tenaga inipun bekerja bersama-sama dalam mengubah bentuk roman muka bumi ini.
Dengan demkian dalam mempelajari geomorfologi terkait pada tiga hal utam yaitu geologi, fisiografi, dan proses geomorfologi.



BAB III
 PENUTUP
1. Kesimpulan
Geomorfologi bukan hanya sekedar mempelajari bentuklahan yang tampak saja, tetapi juga mentafsirkan bagaimana bentuk-bentuk tersebut bisa terjadi, proses apa yang mengakibatkan pembentukan dan perubahan muka bumi. Jadi meliputi bentuklahan (landform), proses-proses yang menyebabkan pembentukan dan perubahan yang dialami oleh setiap bentuklahan yang dijumpai di permukaan bumi termasuk yang terdapat di dasar laut/samudera serta mencari hubungan antara bentuklahan dengan proses-proses dalam tatanan keruangan dan kaitannya dengan lingkungan. Jadi pembahsannya meliputi morfografi, morfometri, proses-proses geomorfologi, morfogenesis, morfokronologi serta mempelajari ekologi bentang lahannya yang tersusun atas batuan, bentuklahan, tanah, vegetasi, penggunaan lahan, dan lain-lain. Dengan demikian bahwa dalam mempelajari geomorfologi terkait pada geologi, fisiografi, dan proses geomorfologi yang menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan dalam perubahan bentuklahan.Konsep dasar Geomorfologi perlu dipahami secara baik untuk mempelajari Geomorfologi dalam membantu mengenal dan menganilasa kenampakan bentuklahan di permukaan bumi, sehingga pada akhirnya dapat mengenal peristilahan baik secara deskriptif maupun secara empiris, terutama nanti dalam melakukan klasifikasi bentuklahan.
 Geomorfologi mempunyai peran dan terapan dalam survei dan pemetaan, survei geologi, hidrologi, vegetasi, penggunaan lahan pedesaan, keteknikan, ekplorasi mineral, pengembangan dan perencanaan, analisis medan, banjir, serta bahaya alam disebabkan oleh gaya endogen.
2. Saran
Pembuatan Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan maka saran dan kritik pembaca sangat kami  harapkan untuk perbaikan-perbaikan penulisan berikutnya.





DAFTAR PUSTAKA
www.geomorfologi indonesia/blogspot.info
http//www.gudang ilmu geomorfologi Indonesia.com
http//www.blogspot.lingkup geomorfologi Indonesia./com
buku panduan geomorfologi