"ruang lingkup ilmu geomorfologi indonesia"
disusun oleh:
pardo wandra(14030024)
pembimbing:widya p
STKIP PGRI SUMBAR
PADANG
2015
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan karunianya
penulis dapat menyelesaikan
geomorfologi indonesia dengan materi”ruanglingkup ilmu geomorfologi indonesia”.Dalam
pembuatan makalah ini penulis mengucapkan terimakasih juga kepada dosen
pembimbing yang telah membimbing penulis dalam penyelesaian makalah ini.
Dalam
makalah ini penulis menyadari,bahwa disini banyak terdapat kesalahan dan
kekurangan baik itu dari segi penulisan maupun bahasa,dan juga isi dari makalah
ini.oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran yang mendidik
dari pembaca makalah ini.Atas kritikan dan sarannya penulis mengucapkan
terimakasih.
Semoga
allah S.W.T.memberkati kita semua.Amin.
Padang,oktober 2014
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pulau
Sumatra merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia,dan letaknya di bagian
barat Indonesia,pulau Sumatra terbagi dalam beberapa propinsi sehingga dengan jelas
keadaan dan kondisi dari setia wilayah yang ada disana.Disebelah utara pulau
Sumatra berbatasan debgan teluk banggala,di bagian timur dengan selat malaka,di
sebelah selatan dengan selat sunda,dan di sebelah barat dengan samudra
hindia.Meskipun suatu daerah berdiri diatas daratan yang sama tetapi keadaan
dan kondisi setiap wilayahnya masih ada yang berbeda dan juga ada persamaannya.
Pulau
Sumatra merupakan daerah yang dilalui oleh sirkum mediterania sehingga daerah
Sumatra banyak memiliki gunung api yang aktif,dan di bagian baratnya terdapat
lempeng yang selalu bergerak kearah Sumatra nama lempeng tersebut adalah
lempeng indo-australia,karena Sumatra berada diatas lempeng asia yang sifatnya
statis (tetap) maka bagian barat tampak terlihat jelas membentuk pegunugan yang
tinggi.Pegunungan ini disebut pegunungan Bukit barisan yang terbentang dari
utara pulau Sumatra sampai ujung selatan Sumatra dan juga terbentuk blok
semangko atau patahan semangko yang terbentang dari utara hingga selatan
Sumatra.
Pulau
Sumatra berada di daerah katulistiwa sehingga daerah Sumatra beriklim
tropis.Menurut Koppen Sumatra termasuk tipe beriklim A karena hujan sepanjang
tahun dan daerahnya lembab.
Sebagian
besar dari permukaan tanah daratan rendah pulau Sumatra terdiri dari tanah Podsolik merah kuning
yang terbentuk dari bahan suduk.Tanah-tanah di daerah pegunungan mempunyai
penyebaran yang sangat rumit,tetapiumumnya terdiri dari berbagai tanah podsolik
merah kuning yang berasosiasi dengan tanah Latosol atau pun litosol.
ll.Rumusan masalah
Ø Apa saja ruang lingkup ilmu
geomorfologi Indonesia?
Ø Apa itu ilmu geomorfologi Indonesia?
lll.Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan
terutama terpenuhinya tugas geomorfologi indonesia kami yakni tentang ruang lingkup ilmu geografi.dan juga
diharapkan akan menambah ilmu pengetahuan kita dalam bidang ilmu geomorfologi
umum.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian geomorfologi
Geomorfologi
sebenarnya berasal dari bahasa Yunani yang lebih kurang dapat diartikan
“perubahan-perubahan pada bentuk muka bumi”. Akan tetapi secara umum
didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang alam, yaitu meliputi
bentuk-bentuk umum roman muka bumi serta perubahan-perubahan yang terjadi
sepanjang evolusinya dan hubungannya dengan keadaan struktur di bawahnya, serta
sejarah perubahan geologi yang diperlihatkan atau tergambar pada bentuk permukaan
itu (American Geological Institute, 1973). Dalam bahasa Indonesia banyak orang
memakai kata bentangalam sebagai terjemahan geomorfologi, sehingga kata
geomorfologi sebagai ilmu dapat diterjemahkan menjadi Ilmu Bentangalam.
Selain itu kata geomorfologi dipakai pula untuk menyatakan roman muka bumi,
umpamanya bila orang menceriterakan keadaan muka bumi suatu daerah dapat
dikatakan pula orang menceritakan geomorfologi daerah itu atau bentangalam
daerah itu. Mula-mula orang memakai kata fisiografi untuk ilmu yang mempelajari
roman muka bumi ini. Di Eropa fisiografi didefinisikan sebagai ilmu yang
mempelajari rangkuman tentang iklim, meteorologi, oceanografi, dan geografi.
Akan tetapi orang, terutama di Amerika, tidak begitu sependapat untuk memakai
kata ini dalam bidang ilmu yang hanya mempelajari roman muka bumi saja dan
lebih erat hubungannya dengan geologi. Mereka lebih cenderung untuk memakai
kata geomorfologi. Sering kedua kata itu dicampur-adukkan. Agaknya bagan pada
Gambar 1 dapat membantu membedakan kedua kata itu.
Kata
Geomorfologi (Geomorphology) berasal bahasa Yunani, yang terdiri dari
tiga kata yaitu: Geos (earth/bumi), morphos (shape/bentuk),
logos (knowledge atau ilmu pengetahuan). Berdasarkan dari
kata-kata tersebut, maka pengertian gomorfologi merupakan pengetahuan tentang
bentuk-bentuk permukaan bumi. Namun,Geomorfologi bukan hanya mempelajari
bentuk-bentuk muka bumi, tetapi lebih dari itu mempelajari material dan proses,
seperti yang dikemukakan oleh Hooke (1988) dalam Sukmantalya (1995: 1), bahwa: Geomorphologist
are concerned with the form and processes of the earth’s surface so any
activity which modifies the shape of the land, induces movement of
material or alters the quantity or quality of water and drainage, is interest
to them. Berdasarkan pada pengertian Geomorfologi yang telah disitir,
secara singkat dapat dijelaskan bahwa Geomorfologi membicarakan tentang
bentuklahan dan proses yang terjadi di permukaan bumi termasuk pergerakan
materilal, air dan drainase serta factor lain yang memicu terjadinya proses
geomorfik. Secara singkat berikut ini disajikan mengenai beberapa definisi
geomorfologi yang dikemukakan oleh para ahli yaitu:
1. Lobeck (1939: 3) menyatakan bahwa
Geomorfologi adalah studi tentang bentuklahan.
2. Cooke dan Doornkamp dalam Sutikno
(1987: 3) dinyatakan bahwa geomorfologi adalah studi mengenai bentuklahan dan
terutama tentang sifat alami, asal mula, proses perkembangan, dan komposisi
material penyusunnya.
3. Thornbury dalam Sutikno (1990:
2) disebutkan bahwa geomorfologi adalah ilmu pengetahuan tentang bentuklahan.
4. Zuidam dan Concelado (1979: 3) juga
menyatakan bahwa Geomorfologi adalah studi yang menguraikan bentuklahan dan
proses yang mempengaruhi pembentukannya serta mengkaji hubungan timbal balik
antara bentuklahan dengan proses dalam tatanan keruangannya.Verstappen (1983:
3) bentuklahan adalah menjadi sasaran Geomorfologi bukan hanya daratan tetapi
juga yang terdapat di dasar laut (lautan).
Dengan demikian obyek kajian dari Geomorfologi berdasarkan
definisi-definis tersebut adalah bentuklahan, bukan hanya sekedar mempelajari
bentuk-bentuk yang tampak saja, tetapi juga mentafsirkan bagaimana
bentuk-bentuk tersebut bisa terjadi, proses apa yang mengakibatkan pembentukan
dan perubahan muka bumi. Misalnya, dalam mempelajari pegunungan, lembah-lembah
atau bentukan-bentukan lain yang ada di permukaan bumi, bukan hanya mempelajari
dalam arti mengamati serta mengukur bentukan-bentukan tersebut, tetapi juga
mnedeskripsikan dan menganalisa bagaimana bentukan itu terjadi. Dalam hal ini
kita harus berhati-hati, karena pada bentukan yang tampak sama, ada kemungkinan
latar belakang pembentukan dan kejadiannya tidak sama, bahkan sangat berbeda
sekali. Umpamanya suatu deretan pegunungan, mungkin terjadi karena pelipatan
kulit bumi, patahan, mungkin juga karena hasil pengerjaan erosi yang demikian
hebat, sehingga menimbulkan relief permukaan bumi yang bervariasi, dan penyebab
lainnya. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka dapat
dijelaskan bahwa Geomorfologi adalah mempelajari bentuklahan (landform),
proses-proses yang menyebabkan pembentukan dan perubahan yang dialami oleh
setiap bentuklahan yang dijumpai di permukaan bumi termasuk yang terdapat di
dasar laut/samudera serta mencari hubungan antara bentuklahan dengan
proses-proses dalam tatanan keruangan dan kaitannya dengan lingkungan. Di
samping itu, juga menelaah dan mengkaji bentuklahan secara deskriptif,
mempelajari cara pembentukannya, proses alamiah dan ulah manusia yang
berlangsung, pengkelasan dari bentuklahan serta cara pemanfaatannya secara
tepat sesuai dengan kondisi lingkungannya.
Sejarah
Geomorfologi
Pengetahuan
tentang geomorfologi, sebagaimana juga dengan ilmu-ilmu yang lain, dimulai
dengan munculnya ahli-ahli filsfat Yunani dan Itali. Sebegitu jauh, Herodutus
(485 – 425 S.M.) yang dianggap sebagai “bapak sejarah” dikenal pula mempunyai
pikiran-pikiran tentang geologi, termasuk juga tentang perubahan muka air laut,
salah satu gejala geomorfologi yang ia perhatikan di Mesir. Kemudian banyak
pula ahli filsafat lainnya yang menyinggung tentang geomorfologi ini. Dapat
disebutkan di sini antara lain Aristotle, Strabo Dan Saneca yang kesemuanya
pada akhirnya menerangkan gejala-gejala alam sebagai suatu kutukan Tuhan atau
dikenal dengan nama Teori Malapetaka.
Berabad-abad kemudian, konsep ini sedikit demi sedikit berubah. Orang mulai
mengenal filsafat katatrofisma yang mengatakan bahwa semua gejala alam itu
sebagai akibat pembentukan dan perusakan yang relatif terjadi dengan tiba-tiba,
sehingga menyebabkan perubahan bentuk muka bumi.
James
Hutton (1726 – 1797) dikenal sebagai “bapak geologi modern” yang menerangkan
gejala-gejala geologi sebagai gejala-gejala alam yang dapat kita kenal
sehari-hari, sangat bertentangan dengan teori katatrofisma yang menganggap
bahwa kejadian geologi relatif mengambil waktu yang amat singkat. Atas dasar
itu kemudian teori yang dikemukakan HUTTON disebut orang sebagai teori
uniformitarianisma, dan terkenal dengan dalilnya yang menyatakan bahwa “hari
ini adalah kunci dari kejadian pada masa lampau” atau istilah asingnya adalah
the present is the key to the past. Pada masa sekarang geomorfologi bukan saja
meliputi bidang yang statis, yang hanya mempelajari bentuk-bentuk roman muka
bumi, akan tetapi juga merupakan ilmu yang dinamis yang dapat meramalkan
kejadian alam sebagai hasil interpolasi. Selain itu pemerian bentuk roman muka
bumi dapat dinyatakan dengan besaran-besaran matematika seperti kita kenal
dengan nama geomorfologi kuantitatif. Sebagai pemukanya dapat dicatat STRAHLER
yang membuat analisa pengaliran sungai secara matematika.
Di Indonesia, bebrapa hasil penyelidikan geomorfologi dapat dijumpai terutama
yang ditulis oleh ahli-ahli Belanda pada zaman sebelum perang. Di antara
karya-karya geomorfologi itu patut dikemukakan di sini penyelidikan
geomorfologi Kulon Progo yang dilakukan oleh PANNEKOEK (1939). Selain itu,
sesudah perang pun ahli-ahli geologi Belanda banyak pula menulis tentang
geomorfologi Indonesia.
Konsep
Dasar Geomorfologi
Thornbury
(1969) dalam buku yang berjudul Principles of Geomorphology mengemukakan 10
konsep dasar dalam geomorfologi, yaitu:
Proses-proses
fisik dan hukumnya yang terjadi saat ini berlangsung selama waktu
geologi.sruktur geologi merupakan faktor pengontrol yang dominan dalam evolusi
bentuk lahan (land forms); Tingkat perkembangan relief permukaan bumi
tergantung pada proses-proses geomorfologi yang berlangsung; Proses-proses
geomorfik terekam pada land forms yang menunjukan karakteristik proses yang
berlangsung; Keragaman erosional agents tercermin pada produk dan urutan land
forms yang terbentuk.Evolusi geomorfologi bersifat komplek. Obyek alam di
permukaan bumi umumnya berumur lebih muda dari Pleistosen; Interpretasi yang
sempurna mengenai landscapes melibatkan beragam faktor geologi dan perubahan
iklim selama Pleistosen. Apresiasi iklim global diperlukan dalam memahami
proses-proses geomorfik yang beragam Geomorfologi, umumnya mempelajari land
forms / landscapes yang terjadi saat ini dan sejarah pembentukannya.
Proses Geomorfologi
Proses geomorfologi adalah perubahan-perubahan baik
secara fisik maupun kimiawi yang dialami permukaan bumi. Penyebab proses
tersebut yaitu benda-benda alam yang kita kenal dengan nama geomorphic agent,
berupa air dan angin. Termasuk di dalam golongan geomorphic agent air ialah air
permukaan, air bawah tanah, glacier, gelombang, arus, dan air hujan. Sedangkan
angin terutama mengambil peranan yang penting di tempat-tempat terbuka seperti
di padang pasir atau di tepi pantai. Kedua penyebab ini dibantu dengan adanya
gaya berat, dan kesemuanya bekerja bersama-sama dalam melakukan perubahan
terhadap roman muka bumi. Tenaga-tenaga perusak ini dapat kita golongkan dalam
tenaga asal luar (eksogen), yaitu yang datang dari luar atau dari permukaan
bumi, sebagai lawan dari tenaga asal dalam (endogen) yang berasal dari dalam
bumi. Tenaga asal luar pada umumnya bekerja sebagai perusak, sedangkan tenaga
asal dalam sebagai pembentuk. Kedua tenaga inipun bekerja bersama-sama dalam
mengubah bentuk roman muka bumi ini. Proses geomorfologi yang kita kenal dapat
diintisarikan
Ruang
Lingkup Geomorfologi
Atas
dasar definisi dan pengertian Geomorfologi seperti yang dikemukakan pada bagian
terdahulu, maka lingkup geomorfologi serta hubungannya dengan ilmu-ilmu lain
meliputi fisiografi yaitu merupakan studi tentang daratan, lautan, dan
atmosfir. Lautan dipelajari dalam Oseanografi, atmosfir menjadi studi
Meteorologi, sedangkan daratan merupakan obyek kajian Geomorfologi. Dengan
demikian jelaslah studi Geomorfologi merupakan salah satu cabang dari
Fisiografi yaitu tentang daratan yang menitik beratkan pada bentuklahan
penyusun konfigurasi permukaan bumi. Berbicara mengenai hubungan antara
Geomorfologi dengan Geologi W.M. Davis dalam Sudardja (1977: 4) menggunakan
istilah geomorphogeny dan geomorphography, karena adanya
perbedaan penekanan dalam mempelajarinya. Dimana, geomorphogeny tekanan
dalam mempelajarinya mengutamakan bentuk-bentuk muka bumi masa lampau, yang erat
hubungannya dengan geologi, sedangkan geomorphography lebih menekankan
mempelajari bentuk-bentuk muka bumi yada ada pada masa sekarang, sehingga
hubunganya dengan geografi sangat erat. Obyek kajian Geomorfologi seperti yang
tersurat dalam definisi-definisi yang dikemukakan pada bagian terdahulu adalah
bentuklahan. Zakrezewska dalam Sutikno (1990: 2), mengatakan bahwa Geomorfologi
itu mencakaup aspek lingkungan dan aspek spasial/keruangan termasuk ke dalam
aliran geomorfologi-geografis. Aliran Geomorfologi yang lain adalah
geomorfologi-geologis. Geomorfologi-geografis cakupannya terletak pada
penterapan konsep trilogi proses, meterial, dan morfologi, sedangkan dalam
aliran geomorfologi-geologis menggunakan cakupannya terletak pada penterapan
konsep bahwa aspek dari semua bentuklahan ditentukan oleh struktur, proses, dan
stadium (Sutikno, 1990: 4). Dengan demikian aspek dari bentuklahan yang
mendapat sorotan meliputi morfografi, morfometri, proses-proses geomorfologi,
morfogenesis, morfokronologi serta mempelajari ekologi bentang lahannya yang
tersusun atas batuan, bentuklahan, tanah, vegetasi, penggunaan lahan, dan
lainlain. Dengan demikian bahwa dalam mempelajari Geomorfologi terkait pada
geologi, fisiografi, dan proses geomorfologi yang menjadi faktor yang tidak
dapat diabaikan dalam perubahan bentuklahan. Atas dasar keterangan yang telah
diuraikan di atas, maka berikut ini disajikan mengenai hubungan antara geologi,
fisiografi, dan proses geomorfologi. Adapun hubungan
Ruang lingkup geomorfologi Geomorfoogi adalah imu tentang
bentuk lahan, dapat didefinisikan bahwa geomorfologi mempelajari fenomena
permukaan muka bumi, juga termasuk didalamnya adalah lautan, lempeng
continental, juga yang lainya seperti gunung dll. Geomorfologi termasuk juga
mempeajari tentang fisiografi dan geologi. Studi fisiografinya adalah termasuk
di dalamnya didalamnya termasuk daratan yang dicakup didalam geomorfologi,
atmosfer atau studi tentang paerlapisan udara yang dicakup ke dalam klimatologi
dan meteorologi, serta tentang lautan yang dikaji kedalam disiplin ilmi
oceanografi.
Geomorfologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang
bentuk-bentuk muka bumi yang terjadi karena kekuatan-kekuatan yang bekerja baik
yang ada di dalam bumi ataupun kekuatan yang berasal dari luar bumi. Daratan
merupakan pokok kajian utama di dalam studi geomorfologi. Secara luas
berhubungan dengan landform (bentuk lahan) tererosi dari batuan yang keras,
namun bentuk konstruksinya dibentuk oleh runtuhan batuan, dan terkadang oleh
perolaku organisme di tempat mereka hidup. “Surface” (permukaan) jangan
diartikan secara sempit, harus termasuk juga bagian kulit bumi yang paling
jauh. Kenampakan subsurface terutama di daerah batugamping sangat penting
dimana sistem gua terbentuk dan merupakan bagian yang integral dari
geomorfologi.
Pengaruh dari erosi oleh air, angin, dan es, berkolaborasi
dengan latitude, ketinggian dan posisi relatif terhadap air laiut. Dapat
dikatakan bahwa tiap daerah dengan iklim tertentu juga memiliki karakteristik
pemandangan sendiri sebagai hasil dari erosi yang bekerja yang berbeda terhadap
struktur geologi yang ada. Torehan air terhadap lapisan batugamping yang keras
dapat berupa aliran sungai yang permanen dan periodik, dapat juga merupakan
alur drainase yang melewati bagian-bagian yang lemah. Sehingga membentuk
cekungan-cekungan pada bagian yag tererosi dan meninggalkan bagian yang lebih
tinggi yang susah tererosi. Ukuran dari cekungan dan tinggian ini bisa beberapa
sentimeter sampai beberapa kilometer. Maka sangat jelaslah jika geomorfologi
merupakan bagian dari fisiografi yaitu tentang daratan yang menitik beratkan
kepada macam-macam bentuk lahan yang menyusun konfigurasi bumi.
Atmosfer
adalah lapisan udara yang menyelubungi bumi. Studi ilmu yang mempelajari atau
yang mengkaji tentang pelapisan udara ini antara lain adalah meteorologi
dan klimatologi. Kedua studi ini sangat erat kaitan, sehingga sulit untuk
dipisahkan.
Meteorologi
adalah salah satu studi ilmu yang mempelajari keadaan rata-rata udara dalam
waktu yang singkat pada wilayah yang sempit. Keadaan rata-rata cenderung
disebut sebagai cuaca, sedangkan waktu yang dimaksud dalam cuaca tersebut
adalah waktu sesaat yang sedang berlangsung yang tersatuan dalam bentuk hari,
jam atau menit. Dengan demikian dapat ditarik sebuah kesimulan jika meteorologi
adalah studi ilmu yang mempelajari keadaan cuaca yang sedang berlangsung sesaat
pada suatu tempat yang terbatas.
Klimatologi
adalah ilmu yang mempelajari keadaan rata-rata udara dalam jangka waktu yang
sangat lama dan mencakup suatu wilayah yang sangat luas sekali. Keadaan
rata-rata suatu udara yang berlangsung dengan sangat lama ini disebut sebagai
iklim. Waktu yang lama jika berdasarkan perjanjian internasional kurang lebih
30 tahun. Bagi peneliti yang sedang belajar manganalisis keadaan iklim pada
suatu tempat atau wilayah, untuk berlatih waktu yang lama berlangsung
sekurang-kurangnya 10 tahun. Dengan demikian kesimpulannya adalah, klimatologi
sebagai ilmu yang mempelajari iklim yang sedang berlangsung lama di dalam
wilayah yang luas.
Kedua
studi di atas tadi memiliki unsur-unsur yang hampir sama. Seperti yang dapat
diketahui jika, atmosher juga dapat mempengaruhi bentuk-bentuk roman muka bumi.
Seperti misalnya gaya erosi yang pada beberapa tempat di permukaan bumi telah
menghasilkan bentuk yang khas. Contohnya adalah bentuk-bentuk batu cendawan
yang seakan menyerupai bentuk jamur atau payung yang merupakan hasil dari
pengerjaan tenaga erosi tipe angin. Dengan demikian atmosfer dapat
dikategorikan ke dalam salah satu dari fisiografi yang berkaitan dengan
bentuk-bentuk lahan.
Studi
lainnya di dalam fisiografi dalah studi tentang lautan yang dipelajari di dalam
disiplin ilmu oseanografi. Oseanografi dapat diartokan kedalam arti yang lebih
sederhana sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang lautan. Oseanografi
semata-mata bukanlah merupakan suatu ilmu yang murni, tetapi merupakan
perpaduan dari bermacam-macam ilmu-ilmu dasar yang lain. Ilmu-ilmu yang
termasuk di dalamnya adalah ilmu bumi ( geologi ), ilmu geografi, ilmu fisuka,
ilmu hayat, dan ilmu tentang iklim serta cuaca. Studu oseanografi ini dibagi
kedalam empat cabang utama yakni fisika oseanografi ( ilmu yang mempelajari
hubungan antara sifat-sifat fisika yang terjadi di dalam lautan sendiri dan
yang terjadi antra lautan dengan atmosfer dan daratan ), geologi oseanografi,
kimia oseanografi ( cabang ilmu ini mengkaji hubungan reaksi-reaksi kimia yang
terjadi di dalam dan di dasar lautan juga menganalisa dari sifat-sifat air laut
itu sendiri, dan yang terakhir adalah biologi oseanografi sebagai lmu yang
mempelajari kehidupan laut.
Lautan
yang khususnya adalah bagian fisik dari dasar laut itu sendiri sebenarnya tidak
jauh berbeda dengan bentuk-bentuk fisik yang ada di permukaan bumi. Jika pada
permukaan bumi kita dapat menjumpai berbagai bentuk lembah, gunung dan
pegunungan, serta jurang, kitapun juga dapat menemukan kenampakan fisik yang
demikian di dalam lautan. Seperti misalnya kenampakan yang umum adalah lembah
lautan atau osean basin yang terbagi menjadi ridge dan rsse, jurang laut atau
palung laut ( trenc ), serta seamont dan guyot ( seamont adalah gunung-gumung
berapi yang muncul dari dasar lautan, tetapi tidak dapat mencapai sampai ke
permikaan laut sedangkan guyot adalah sebaliknya yang memiliki puncak yang
datar.
Lautan
yang dikaji oleh studi oseanografi merupakan salah satu cabang dari fisiografi.
Kenyataan ini sangatlah jelas karena di dalam lautan terdapat bentuk-bentuk
muka bumi seperti halnya yang ada di daratan.
Sejarah
perkembangan keilmuan geomorfologi dipelopori oleh semua orang yang belajar dan
meneliti geomorfologi, dimana mereka menemukan ide-ide baru yang membuat
geomorfologi berkembang hingga sekarang. Pandangan kuno geomorfologi
Bentanglahan adalah suatu fenomena geologi yangluas, filosofi yang sebenarnya
dari filosofi ilmu oengetahuan masa lalu. Proses geomorfologi merupakan proses
yang sangat signifikan. Perkembangan geomorfologi banyak didiskusikan oleh
filsuf asal yunani dan itali diantaranya dalah Herodotus, aristoteles, Strabo,
Geomorfologi modern Dari sjarah para ilmuan geomorfologi, proses geomorfologi
merupakan proses yang sangat lama namun mengalami perubahan yang sangat sedikit
demi sedikit. Banyak para ahli yang berpendapat, seperti, pendahulu dari hutton
mengemukakan, konsep lahan yang kontras dengan pemikiran yang lain bahwa
bentanglahan itu permanen, itu adalah fundamental geomorfologi modern, kemudian
selain itu ada Leonardo da vinci (1412-1519), buffon dari prancis (1638-1687),
targioni-Tozetti (1707-1788), Gheutthard (1715-1788), dasnmarest (1725-1815),
De Saussure (1740-1799) Setelah hutton perkembangan di eropa yaitu sir Charles
Lyell (1797-1875) yang merupakan pekembangan yang sangat signifikan di eropa
dengan mencetak buku Principles of geology (1872) yang menjelaskan tentang
zaman es dimana menutupi amerika utara. Kmeudian ssetlah itu jukes pada tahun
1862 dimana membuat paper tentang sungai-sungai di irlandia. Berikutnya adalah
perkembangan di amerika utara dimulai oleh zittel (1901) denga the age heroic
of geology, kemudian periode berikut nya dengan the heroic age in American
geomorphology. Kemudian ada tiga pioneer pemikiran dalam ruang lingkup
geomorfologi yaitu j.w Powell, G.K Gilbert, C.E. Dutton orang-orang ini yang
membangun konsep siklus geomorfologi. Tren terakhir geomorfologi Beberapa macam
tren yang signifikan pada decade yang singakat adalah tendensi untuk
geomorfologi di amerika untuk menjadikan geologi lebih ketat daripada
geomorfologi yang menghasilkan aplikasi geomorfolgi yang mepelajari sisi lain
dari dari geologi, yaitu mineralogy yang mempelajari tentang tentang pelapukan,
statigrafi dalam paleogeomorfologi, dan paleontology teknik yang mempelajari
tentang penyusun glacial, dan yang kedua adalah pembangunan geomorfologi
regional, yang mempelajari tentang fenomena konitnen dari suatu area
geomorfologi dan sejarahnya, ketiga adalah aplikasi geomorfologi untuk geologi
air tanah, ilmu tanah, dan teknik geologi, yang keempat adalah aplikasi pada
hukum hidrodinamik yang membuat pengertian lebih baik mengenai proses
geomorfologi.
Berbicara mengenai hubungan antara geomorfologi dengan geologi. Perlu
diketahui geologi adalah adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari atau
menyelidiki tentang lapisan batuan yang ada di dalam kerak bumi baik secara
evolusi anorganik maupun organik dari bumi ( asal usul, struktur, komposisi,
sejarah, gejala dan proses ) bumi. Dua cabang dari ilmu geologi yang berkaitan
dengan geomorfologi antara lain adalah mineralogi dan petrologi.
Mineralogi adalah cabang ilmu dari geologi yang
mempelajari mineral sebagai bahan utama dalam pembentuk lapisan kerak
bumi, bagian dari batuan, bijih, garam-garaman, batu permata, dan lain-lain.
Sedangkan petrologi adalah cabang dari ilmu di dalam geologi yang
mempelajari tentang proses terjadinya berbagai macam batuan, dan
cara pengklasifikasiannya. Kedua studi ini juga berkaitan dengan geomorfologi,
sebab beberapa bentuk-bentuk muka bumi di susun oleh batian-batuan,
sedangkan batuan-batuan itu sangat di pengaruhi oleh mineral-mineral sebagai
bahan penyusun utama batuan.
Hubungan antara geomoforlogi dengan geologi dapat mengacu kepada dua
istilah yakni geomorphogeni dan geomorphografi yang di dalamnya terdapat
perbedaan penekanan dalam menpelajarinya. Geomorphogeny lebih mengutamakan
mempelajari bentuk-bentuk muka bumi yang telah terjadi pada masa yang lampau,
erat sekali hubungannya dengan geologi. Geomorfologi-geologi menggunakan
cakupannya yang terletak pada penterapan konsep aspek dari semua bentuk lahan
ditentukan oleh struktur, proses, dan stadium. Di dalam ilmu geologi terdapat
cabang ilmu geologi sejarah, gelogi sejarah adalah disiplin ilmu yang
mempelajari urutan-urutan dari satuan-satuan waktu serta
kejadian-kejadian dan perubahan-perubahan selama sejarah bumi.
Misalnya dalam konteks ini adalah tentang bagaimana proses terbentuknya
bentuk bumi berupa pegunungan yaitu Bukit Barisan yang ada di Pulau Sumatera.
Proses bagaimana terjadinya Bukit Barisan tentu dikaji di dalam studi geologi.
Bukit Barisan yang terjadi pada masa lampau tentu tidak terbentuk begitu saja
tanpa proses-proses yang rumit dan panjang pada masa-masa lampau. Oleh karena
itu dengan menggunakan studi geologi dan geologi sejarah kita dapat mengkaji
dan mempelajari tentang bagaimana proses terbentuknya Bukit Barisan yang telah
terjadi sejak lama dalan kisaran waktu berpuluh-puluh juta tahun yang lalu.
Sedangkan Geomorfogeni dalam pengkajiannya lebih menekankan dalam
mempelajari bentuk-bentuk muka bumi yang ada pada masa sekarang sehingga
hubungannya dengan geografi sangatlah erat. Geomorfologi-geografis cakupannya
terletak pada penerapan konsep trilogi yaitu proses, materil, dan morfologi.
Proses geomorfologi adalah perubahan-perubahan baik secara fisik maupun
kimiawi yang dialami permukaan bumi. Penyebab proses tersebut yaitu benda-benda
alam yang kita kenal dengan nama geomorphic agent, berupa air dan angin.
Termasuk di dalam golongan geomorphic agent air ialah air permukaan, air bawah
tanah, glacier, gelombang, arus, dan air hujan. Sedangkan angin terutama
mengambil peranan yang penting di tempat-tempat terbuka seperti di padang pasir
atau di tepi pantai. Kedua penyebab ini dibantu dengan adanya gaya berat, dan
kesemuanya bekerja bersama-sama dalam melakukan perubahan terhadap roman muka
bumi. Tenaga-tenaga perusak ini dapat kita golongkan dalam tenaga asal luar
(eksogen), yaitu yang datang dari luar atau dari permukaan bumi, sebagai lawan
dari tenaga asal dalam (endogen) yang berasal dari dalam bumi. Tenaga asal luar
pada umumnya bekerja sebagai perusak, sedangkan tenaga asal dalam sebagai
pembentuk. Kedua tenaga inipun bekerja bersama-sama dalam mengubah bentuk roman
muka bumi ini.
Dengan demkian dalam mempelajari geomorfologi terkait
pada tiga hal utam yaitu geologi, fisiografi, dan proses geomorfologi.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Geomorfologi
bukan hanya sekedar mempelajari bentuklahan yang tampak saja, tetapi juga
mentafsirkan bagaimana bentuk-bentuk tersebut bisa terjadi, proses apa yang
mengakibatkan pembentukan dan perubahan muka bumi. Jadi meliputi bentuklahan (landform),
proses-proses yang menyebabkan pembentukan dan perubahan yang dialami oleh
setiap bentuklahan yang dijumpai di permukaan bumi termasuk yang terdapat di
dasar laut/samudera serta mencari hubungan antara bentuklahan dengan
proses-proses dalam tatanan keruangan dan kaitannya dengan lingkungan. Jadi
pembahsannya meliputi morfografi, morfometri, proses-proses geomorfologi,
morfogenesis, morfokronologi serta mempelajari ekologi bentang lahannya yang
tersusun atas batuan, bentuklahan, tanah, vegetasi, penggunaan lahan, dan
lain-lain. Dengan demikian bahwa dalam mempelajari geomorfologi terkait pada
geologi, fisiografi, dan proses geomorfologi yang menjadi faktor yang tidak
dapat diabaikan dalam perubahan bentuklahan.Konsep dasar Geomorfologi perlu
dipahami secara baik untuk mempelajari Geomorfologi dalam membantu mengenal dan
menganilasa kenampakan bentuklahan di permukaan bumi, sehingga pada akhirnya
dapat mengenal peristilahan baik secara deskriptif maupun secara empiris,
terutama nanti dalam melakukan klasifikasi bentuklahan.
Geomorfologi
mempunyai peran dan terapan dalam survei dan pemetaan, survei geologi,
hidrologi, vegetasi, penggunaan lahan pedesaan, keteknikan, ekplorasi mineral,
pengembangan dan perencanaan, analisis medan, banjir, serta bahaya alam
disebabkan oleh gaya endogen.
2. Saran
Pembuatan Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan maka saran dan kritik pembaca
sangat kami harapkan untuk
perbaikan-perbaikan penulisan berikutnya.
DAFTAR
PUSTAKA
http//www.gudang ilmu
geomorfologi Indonesia.com
http//www.blogspot.lingkup
geomorfologi Indonesia./com
buku panduan
geomorfologi